Begitu melewati gerbang timur Kota Huoling, Lynx dan Leena tidak menemui kesulitan berarti. Para penjaga yang mengenali keduanya langsung memberi jalan. Nama Lynx dan Ling Mei sebagai Xiao Ling dan Ling Mei sudah menyebar ke seantero kota sejak keberhasilan mereka menyelamatkan Huoling dari kehancuran. Lynx bahkan harus mencegah mereka yang antusias ingin memberitahu walikota Huoling. Lynx menjelaskan jika dia hanya sebentar di tempat tersebut.

Tak jauh dari gerbang, mereka melihat bangunan rumah makan Seribu Rasa yang dulu dimiliki oleh Yin Yue, wanita yang berhasil merebut fragmen senjata iblis. Tempat itu kini tampak jauh lebih ramai dari sebelumnya, bahkan antrean terlihat hingga ke luar pintu.

Leena memicingkan mata, alisnya sedikit berkerut. "Apa wanita itu masih mengelola tempat ini?"

Belum sempat Lynx menjawab, dari tengah keramaian, terdengar suara yang familiar memanggil.

"Kepala Suku! Leena! Kalian di sini?"

Lynx dan Leena menoleh. Seorang pemuda dan pria paruh baya tampak berjalan cepat ke arah mereka, Karim dan Zhen Huan.

"Karim, Tuan Zhen! Syukurlah, kami menemukan kalian," ujar Leena dengan nada lega.

Zhen Huan menyipitkan mata, menatap Lynx dan Leena lekat-lekat. Wajah mereka menyimpan sesuatu, kekhawatiran yang tak bisa disembunyikan. Pengalaman bertahun-tahun membuatnya peka. Ia segera mengerti bahwa ada kabar buruk yang mereka bawa.

"Kelihatannya ini bukan pertemuan biasa. Ikuti aku," kata Zhen Huan tanpa basa-basi. Ia berbalik dan membawa mereka masuk ke dalam rumah makan Seribu Rasa.

Di lantai atas, mereka memasuki sebuah ruangan tertutup. Begitu pintu ditutup, Zhen Huan bicara tanpa berputar-putar.

"Tempat ini sekarang bagian dari organisasi kita. Aku mengambil alih tempat ini, bukan hanya karena strategis, tapi juga agar kota ini tetap terjaga. Selain itu, kita masih berusaha mencari jejak Yin Yue dari tempat ini. Itu sebabnya aku mengajak Karim kemari."

Ia menatap mereka dalam-dalam. "Sekarang, katakan. Apa yang terjadi? Aku bisa melihat ada beban berat yang terlihat di wajah kalian."

Keheningan menyelimuti ruangan. Lynx dan Leena saling berpandangan. Kata-kata terasa berat untuk diucapkan.

Akhirnya Lynx membuka suara, dia tidak bisa menunda waktu lebih lama menyelamatkan Lala. "Tuan Zhen... sesuatu terjadi di Kota Zhurong, saat fajar tadi." Katanya dengan suara rendah tapi tegas

Karim menegang. "Apa yang terjadi, Kepala Suku?"

"Kanaya... berhasil menculik Lala. Dan..." Lynx menarik napas dalam. "Kael kemungkinan besar gugur dalam ledakan yang dibuatnya."

"Apa?!" Zhen Huan dan Karim langsung berdiri dari duduk mereka. Seperti disambar petir di siang bolong.

Karim menatap Lynx dengan mata memerah. "Tidak mungkin...Kepala suku, anda pasti bercandakan? Kael tidak akan meninggalkan kita begitu saja." Namun saat melihat raut wajah Lynx dan Leena yang penuh duka, air mata Karim menetes tanpa bisa ditahan.

Zhen Huan dengan rasa tidak percaya segera mengeluarkan sesuatu dari dalam cincin penyimpanan,sebuah batu kecil berwarna kebiruan, memancarkan cahaya redup dan bergoyang pelan seakan hidup.

"Tidak... Kael masih hidup. Tapi kondisinya sangat lemah."

Ketiganya menatap batu itu penuh harap.

"A... Apakah Anda yakin, Tuan?" tanya Karim gemetar.

Lynx menatap batu itu tajam, cahaya di matanya mulai muncul. "Itu... batu jiwa?"

Zhen Huan mengangguk pelan. "Batu Jiwa ini milik Kael. Aku mengikatnya sejak dia mulai terlibat dalam operasi penting organisasi. Jika dia celaka, aku bisa mengetahuinya."

Leena mengangguk, ia pun mengenali benda itu. Sektenya juga menggunakan metode serupa untuk memantau keadaan para murid sekte di medan perang.

Lynx tersenyum tipis. "Jadi dia masih hidup..." Dugaannya mengenai Kael dibawa oleh Kanaya semakin kuat.

"Lynx," tanya Leena, "kita harus segera menolongnya. Tapi di mana dia sekarang?"

Lynx mengangguk dan memandang Zhen Huan. "Tuan, apakah Anda bisa melacak posisinya?"

Zhen Huan menutup mata, menyatukan jiwanya pada batu Jiwa, berusaha menyentuh sisa jejak Kael. Beberapa detik kemudian ia menggeleng.

"Jejaknya lemah... tapi rasanya belum meninggalkan Kota Zhurong."

Leena menimpali cepat. "Tapi kami sudah mencarinya. Jika benar dia masih di Zhurong, kenapa kami tidak menemukannya?"

Lynx mengerutkan kening. "Kael... terluka parah. Itu sesuai cerita Jelita yang mengatakan melihat Kael tertembak. Kemungkinan Kael tidak sadarkan diri, sama seperti Jelita, sehingga aku tidak bisa menemukannya."

Ia menutup matanya dan mulai memusatkan kekuatan, mencoba menelusuri jejak Kael dari jarak jauh. Tapi tetap tidak terasa apa pun. Ia membuka mata perlahan, gelisah.

"Tuan Zhen... apakah Anda punya dugaan di mana dia berada? Aku belum bisa merasakan kehadirannya."

Zhen Huan menatap Lynx dengan tatapan kaget,dalam benaknya dia berpikir apakah pemuda didepannya ini mencoba merasakan keberadaan Kael dari jarak sejauh ini? dia tahu dari cerita Kael dan yang lainnya jika sosok yang disebut kepala suku ini kuat, tetapi mereka tidak menceritakan secara detail seberapa kuat pemuda dihadapannya ini sesungguhnya.

Jarak kota Zhurong ketempat ini cukup jauh, meskipun ada yang dapat merasakan jejak energi dari jauh, tentu memerlukan waktu yang cukup lama dan menghabiskan banyak energi, namun pemuda dihadapannya ini terlihat melakukannya seolah itu hal sepele.

"Bukankah kau mengatakan dia sempat bertarung melawan Kanaya?" Zhen Huan menatap Lynx dengan sorot tajam. "Kemungkinan besar, dia terluka dan memilih bersembunyi untuk memulihkan diri. Meski kekuatan spiritualnya lemah, Kael memiliki naluri bertempur yang tajam dan pengalaman medan laga yang melampaui kita semua. Strateginya, ketenangannya, semuanya luar biasa."

"Bersembunyi? Dalam keadaan seperti itu?" Lynx mengernyit. "Tertembak laser bukanlah hal kecil. Jika dia masih hidup setelah tertembak, itu sudah keajaiban."

Zhen Huan terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. Suaranya penuh keyakinan. "Pagoda Qingling..."

"Pagoda Qingling?" ucap Lynx dan Leena hampir bersamaan.

Karim yang sejak tadi mendengarkan, tersentak ingatannya. Dia melihat Zhen Huan memberikan ke Kael artefak tersebut untuk Kael berlatih, sesaat sebelum dia dan Zhen Huan berangkat "Ya benar. Pagoda Qingling. Kemungkinan Kael bersembunyi disana memulihkan diri."

Leena menoleh heran. "Pagoda Qingling? Mengapa aku tidak pernah mendengarnya?"

Zhen Huan tersenyum tipis. Nada suaranya berubah menjadi lembut, seolah tengah bercerita tentang pusaka langka. "Pagoda Qingling adalah artefak kuno berbentuk kecil, seukuran kepalan tangan bayi. Tiga tingkat bangunannya menggambarkan kejernihan jiwa, itulah arti Qingling. Tempat itu bukan sekadar tempat berlatih... tiap tingkatnya memiliki hukum dunia tersendiri. Di dalamnya, pikiran menjadi bening, dan kekuatan spiritual lebih mudah terkumpul. Aku memberikannya pada Kael karena dia baru saja mengonsumsi pil tingkat tinggi darimu. Aku ingin dia bisa menguasai kekuatannya dengan stabil sebelum kembali ke medan perang."

Lynx dan Leena saling pandang. Harapan mulai tumbuh di hati mereka.

"Kalau begitu," tanya Lynx cepat, "apa kau bisa melacak keberadaan artefak itu?"

Zhen Huan menggeleng pelan. "Sayangnya, artefak itu belum terikat secara spiritual dengan siapa pun. Aku hanya meminjamkannya. Jadi tidak ada jejak yang bisa kulacak. Tapi bila kalian menemukannya... bentuknya khas. Miniatur pagoda tiga tingkat berwarna giok tua, dengan pola awan mengalir di dindingnya."

Lynx mengepalkan tangan. "Kami akan menemukannya."

Karim melangkah maju. Wajahnya tampak bimbang, namun ia menarik napas dalam. Dia ingin ikut karena khawatir, tapi dia ingat perkataan Kael saat melatih mereka, sebagai prajurit kita harus bersikap profesional, istilah yang ditekankan oleh Kael, untuk mengutamakan Misi di atas segalanya. "Lynx, kamu harus bisa menemukannya. Juga Lala, Narendra pasti sangat mencemaskannya." kata karim. Dia mengetahui perasaan Narendra kepada Lala yang sudah muncul sejak di Planet Surya, namun Narendra tidak berani mengutarakannya.

Lynx menepuk pundaknya. "Percayakan pada kami. Kami akan bawa Kael dan Lala kembali."

Saat mereka berpamitan, Zhen Huan memberikan batu jiwa Kael untuk membantu Lynx menemukannya. Segera Lynx menggenggam tangan Leena dan melesat keluar, menuju lorong sepi di sisi barat rumah makan. Ia memeriksa sekitar, memastikan tak ada yang melihat, lalu mulai membuat formasi teleportasi. Meskipun Zhen Huan mungkin sudah tahu kekuatannya, Lynx tetap tidak ingin memperlihatkannya lebih dari yang perlu.

Begitu mereka menghilang dari hadapan mereka, Karim baru menyadari sesuatu.

"Tuan Zhen... kita belum sempat bertanya, ke mana Kanaya membawa Lala…"

Zhen Huan tidak menjawab. Ia hanya tersenyum samar. Tatapannya menerawang ke arah langit yang mulai meredup. Dalam hatinya, ia hanya bisa berharap—Kael benar-benar masih hidup.

